Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

“Puisi dan menulis lirik adalah suatu hal yang sama. Lagu itu puitis.” Edo Wallad, seorang penyair yang banyak terjun dalam karirnya secara tidak sengaja. Tidak sengaja suka puisi sampai tidak sengaja ditawari menjadi penulis puisi. Berawal dari karirnya sebagai wartawan yang terbiasa bersaing dengan modal kualitas tulisan, ia ikut dalam komunitas puisi, Komunitas Bunga Matahari, dengan tujuan untuk memperbanyak kata dan diksi yang bagus. Sampai akhirnya tahun 2003, Akademi Kebudayaan Yogyakarta membuka sarana pengajuan untuk antologi puisi di internet, dan ternyata 3 puisi yang ia ajukan diterima dan dibukukan. “Percobaan pertama langsung dibukuin, oh iya, bisa nih berarti.”

Kehidupan sehari-hari yang dikemas dengan teknik penulisan free verse adalah kebanyakan puisi yang membawanya banyak dikenal orang. Teknik free verse, tidak perlu banyak pakem yang harus diikuti namun mementingkan rasa yang sampai pada pembacanya.

Bukunya yang berjudul ‘Pesta Sebelum Kiamat’ membahas tentang perasaan kehilangan serta rasa tidak mau hilang, merupakan bentuk perayaan terhadap hidup. Menceritakan tentang sakit yang pernah dideritanya yang membuatnya lebih mengapresiasi kehidupan. “Sebelum mati, pengen dirayakan sehidup-hidupnya.”

Selain penyair, Edo Wallad juga aktif di dua band bersama teman-temannya, Motives dan The Safari. Band pertamanya, Motives, sudah berjalan selama 20 tahun, dari kesulitan jarak Bogor-Jakarta, sampai sekarang sudah cukup dibilang ‘mapan’. Single terbarunya, Slavery, berisi kritik sosial yang membahas ‘perbudakan kapitalisme’. “Diperbudak teknologi, diperbudak konsumerisme, bahkan ngikutin trend aja udah termasuk diperbudak.” Single terbarunya ini diapresiasi sangat baik bahkan sampai diliput di media Amerika. Sedangkan band lainnya, The Safari, lebih ke arah band yang lebih fleksibel karena masing-masing personilnya pun memiliki band sendiri.

Saat ini, Edo Wallad bersama Farhanah dan Ratri Ninditya, tiga penulis puisi Gramedia, membuat webzine dengan judul ‘Enam Empat’ yang merupakan riset untuk mengenal Kota Bogor lewat karya tulis. Enam Empat membiarkan siapa saja menuangkan pendapatnya tentang kehidupan Bogor tanpa pemilihan tertentu, tanpa kurasi.

Puisi ajang mengeluarkan keresahan, ide, dan konsep yang ada di kepala yang bisa disembunyikan dengan metafora dan memiliki banyak arti. Disamping itu, puisi pun juga bisa menjadi bumerang bagi penulisnya sendiri. Enam Empat tidak akan mempublikasi puisi yang mengandung SARA dan hal yang kurang pantas. Namun puisi tersebut tidak akan langsung ditolak, sebaliknya akan diberikan masukan agar penulis bisa lebih aware dengan apa yang mereka tulis.

Seiring berjalannya waktu, model dari puisi pun semakin banyak. Puisi modern banyak menyesuaikan masyarakat agar mudah diterima banyak orang. Namun sayangnya, banyak nilai dan rasa yang kurang tersampaikan. Bagi penyair, perlu membuka diri dengan referensi dan alternatif baru.

”Puisi adalah kenyataan, semua orang bisa berpuisi. Mengungkapkan rasa tidak perlu menggunakan metafora yang sulit.”

 

Puisi untuk Enam Empat bisa dimasukkan melalui :
Instagram : @64berangkat
Website : enamempat.com

Penulis : Fabiola Dyandra
Editor : Dhoni Saputra

X