BOGOR, 10 Oktober 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Arsitektur dan Desain menyelenggarakan Workshop Sinergi Desain dalam Rangka Penguatan Ekosistem Creative Hub di Auditorium Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor, Sabtu (10/10). Bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan dan REKA Bogor, kegiatan ini diikuti 50 pelaku ekonomi kreatif binaan REKA Bogor yang membawa produk masing-masing untuk mendapatkan masukan dan konsultasi langsung dari para narasumber.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, menegaskan bahwa desain tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga merupakan pendekatan untuk menghasilkan solusi, meningkatkan kualitas, dan menciptakan nilai tambah produk. Ia mendorong pelaku ekonomi kreatif agar tidak terjebak dalam persaingan harga, melainkan memperkuat daya saing melalui inovasi desain serta memanfaatkan ekosistem creative hub untuk memperluas akses pasar, baik di tingkat lokal maupun global.
“Segala sesuatu dimulai dari desain, bukan design by accident,” ujarnya.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Ela Rosliana, S.Sos., menyoroti pentingnya perlindungan kekayaan intelektual (HKI) bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, pada 2019 baru 11 persen UMKM yang memiliki HKI. Pemerintah Kota Bogor telah membuka fasilitasi pendaftaran HKI sejak April 2026 dengan kuota 85 pelaku usaha. Hingga Oktober 2026, sebanyak 46 pelaku usaha telah mendaftar untuk memperoleh fasilitasi tersebut.

Dalam sesi materi bertajuk “Hidup dari Karya”, Ketua REKA Bogor, Georgian Marcello, S.Ds., M.M., menjelaskan bahwa ekonomi kreatif bertumpu pada ide yang dikembangkan melalui proses produksi hingga menghasilkan karya bernilai tambah. Menurutnya, perlindungan HKI menjadi penting untuk menjaga orisinalitas dan memberikan kepastian atas kepemilikan karya kreatif.
Ia mencontohkan motif Batik Handayani Geulis yang telah didaftarkan sebagai HKI serta maskot Kota Bogor, Rubo (Rusa Bogor), yang lahir dari sayembara desain. Georgian juga mengangkat contoh Galeri Bumi Parawira, tempat lukisan Penobatan Sri Baduga Maharaja dikembangkan menjadi pertunjukan teater. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa karya kreatif dapat diolah lintas subsektor untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang bagi seniman lokal.

Sementara itu, Analis Perdagangan Ahli Pertama Kementerian Perdagangan, Diarrahmah Gustika Putri, memperkenalkan tiga program Indonesia Design Development Center (IDDC), yaitu Designers Dispatch Service, penghargaan Good Design Indonesia, dan Klinik Desain. Melalui Klinik Desain, pelaku usaha dapat memperoleh konsultasi tanpa biaya untuk pengembangan desain produk, komunikasi visual, dan kemasan.
Tenaga Ahli Desainer IDDC, Baginda Wisnu Wardhana, memaparkan peran desain dalam meningkatkan daya saing produk tradisional agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Ia mencontohkan tampah, yang semula digunakan untuk menampi beras, tetapi melalui pendekatan desain dapat dikembangkan menjadi produk dekorasi dinding yang diminati pasar internasional.
Menurutnya, produk tradisional menghadapi sejumlah tantangan, antara lain persaingan harga, kejenuhan konsumen, dan regenerasi perajin. Karena itu, penguatan desain, identitas merek, dan kemasan menjadi langkah penting untuk membangun diferensiasi serta meningkatkan nilai jual produk.
“Produk yang bagus bukan untuk semua orang, tapi untuk orang yang tepat,” katanya, menekankan pentingnya memahami karakteristik dan kebutuhan pasar sasaran.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi konsultasi desain yang menghadirkan Baginda Wisnu Wardhana, Diarrahmah Gustika Putri, Bayu Pratama Hadiputra, S.Ds., dan Mahdi Albart, S.Sn. Dalam sesi ini, para peserta memperoleh masukan langsung terkait pengembangan desain, identitas produk, komunikasi visual, dan kemasan sesuai dengan karakteristik serta potensi usaha masing-masing.

Melalui Workshop Sinergi Desain, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk menjadikan desain dan perlindungan HKI sebagai bagian integral dari pengembangan usaha. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas kreatif dalam membangun ekosistem yang mendukung inovasi, meningkatkan daya saing, serta memperluas akses pasar bagi produk kreatif lokal.

